Postingan

Hidup dengan keikhlasan hati

Siang ini saat saya sedang dalam perjalanan mengunjungi salah satu rekan di kota kecil ini, saya melihat beberapa orang yang berjalan di jalan dengan pakaian seadanya, ada yang mendorong gerobak, ada yang mengendarai becak motor, ada yang membawa karung goni, ada yang sambil menggendong anak membawa keranjang besar. Hati saya tersentuh. Mungkin pemandangan ini sudah biasa kita lihat, apalagi kalau di kota besar pasti lebih banyak lagi. Namun satu hal yang tiba-tiba saya sadari dan membayangkan bagaimana bila salah satu anggota keluarga saya menjadi seperti itu, bahkan bila keluarga dekat saya yang mengalaminya. Mungkin untuk saat ini saya bisa menghidupi diri sendiri dan juga membantu keluarga saya sedikit demi sedikit. Sedangkan mereka berjuang hanya agar bisa menghidupi kebutuhan sehari-hari. Miris hatiku mengingatnya. So What….? Yah bagaimana bisa tetap hidup dalam keadaanku yang sekarang dengan tidak merasa tertekan melihat penderitaan mereka? Satu jawaban yang kudapatkan adalah me...

Hati yang membeku

Ada tetes airmata yang menggantung di pelupuk mataku Aku sadari aku telah kehilangan sesuatu. Sesuatu yang takkan mungkin kembali. Sebuah hati yang penuh dengan keikhlasan dan kesabaran menjalani hidup apa adanya. Aku telah tertipu. Tertipu dengan amarah dan kebencian yang menguasai neuron-neuron dalam otakku dan menolak untuk mengalah. Aku merindukan saat aku tidak harus mengeraskan hati dan menutup mata dan telingaku dengan semua kicauan di sekitarku. Aku merindukan saat pintu dan jendela ruang-ku terbuka dengan semua perbedaan yang melintas, memberi toleransi dan menyenangkan semua orang. Kini aku meninggalkan semua itu. Aku menutup ruang hidupku, hanya untukku, untuk hidupku sendiri dan musikku. Aku sepi. Tapi aku masih bertahan dalam keyakinan aku baik saja. Pilihan hidup disertai konsekuensi yang sebanding. Tawa-ku tak bisa lepas dan senyum-ku tak bisa tulus. Aku berkeras dan mendekati membatu. Aku butuh badai kasih sayang untuk melumerkan semua kehampaan dan kebohongan ini. Jika...

suyanto...oh suyanto

Siapa bilang kalau menyaksikan ketidakadilan kita bisa saja hanya menutup mata. Sore ku yang biasanya berkhir dengan saat-saat yang menyenangkan, kali ini terganggu oleh ulah seorang petugas aparat kepolisian bernama Suyanto. Dengan tanpa perasaan bersalah sedikitpun, sang aparat yang katanya pelindung masyarakat ini menyandera STNK sebuah mobil angkutan umum yang saya tumpangi. Dan bodohnya lagi kataku dalam hati sambil mengutuki si sopir yang mau-mau saja dibodohi. Seolah tidak peduli dengan haknya yang sudah dikebiri si aparat yang satu ini, dengan pede-nya dia menunggu angkotnya dipenuhi oleh penumpang dan setelah penuh, barulah dia pergi menghadap si aparat sambil membawakan upeti yang "ku tak tahu berapa jumlahnya" dan menebus STNK mobilnya. Aarrrrggghhhh.....!!! Sungguh pemandangan yang sangat menyebalkan. Tetapi sempat juga aku berpikir, ngapain juga aku harus marah? toh kedua manusia bodoh itu sama-sama saling membodohi dan sama- sama saling bekerjasama melakukan pel...

pilihan-mu seperti senyum atau tawaku

22 Januari 2010 Dalam beberapa hari terakhir, si biru tergantikan oleh si "merah". Sejak si biru sudah semakin belagu karena menaikkan tarif ongkos 500 rupiah secara sepihak, rasanya malas untuk menumpang pulang bersama dia. Memang daya tarik si merah ini jauh lebih banyak, karena dia juga menawarkan seorang teman selama perjalanan. Maklumlah selama ini di dalam gelembung si biru, yang bisa kulakukan hanya memandangi jalan, sesekali melirik penumpang lain yang memandang sesama penumpang dengan wajah curiga. Hmm.. mengapa mereka seolah-olah selalu menghakimi orang lain ya? Sore ini, kembali aku menumpang si biru. Penuh, pikirku, saat si biru melintasiku. Ya memang mang supir juga sudah mengangkat tangannya menandakan sudah tidak ada lagi sisi ruang si biru untuk tempat meletakkan pantat ini. Kurelakan si biru melaju melewatiku. Tapi alangkah masgyul hatiku, 30 meter setelahnya, si biru berhenti memuntahkan seorang penumpang "tak tahu diri, egois dan tidak tenggang rasa...

Sibiru yang sesak-membuatku sesak juga

09/09/2009 19:16:04 Sibiru-tiga sore hari ini sesak sekali. Penuh. Dan sebenarnya sudah tidak mau ikutan tadinya, tetapi sudah pukul setengah enam sore, takut tidak ada sibiru lagi. Rata-rata penumpangnya buang pandang. Seolah capek, ngantuk dan tidak mau peduli, sebagian seperti tidur atau pura-pura ngantuk, saat aku masuk kantong sibiru. Pinggangku sudah sakit, ditekuk gara-gara sempit. Harus rela bayar tarif yang sama, walau harus duduk setengah pantet, hush her... Wanita di sampingku sama sekali seperti tidak mau mengerti, sudah makan setengah jatah kursiku, eh.. waktu jalan menurun malah tetap bersandar padaku, apa jadinya, gajah begini. Udah kantong belakang sibiru penuh, pak sopir seenaknya saja naikin penumpang, kali ini seorang mbak-mbak. Tadinya si mas ini duduk dekat pintu, tapi karena si mbak ini berkeras mau ikut, mas-nya jadi nge-gantung. Hmmmm mbak....? Apa nda kasihan ya?Coba aja kamu laki-laki, mari sama-sama ngatung di luar nih...dalam pikiran si-mas. Sibiru kecil uda...

"Ngangkot'

Semalaman berpikir keras, bagimana memulai untuk menuliskan pengalaman ini. Banyak hal yang bisa diangkat. Tetapi tetap saja bingung harus mulai dari mana. Terinspirasi oleh kejadian-kejadian yang dialami selama bergelut dengan angkot-angkot. Karena kebenaran sehari-hari saya harus turun naik angkot untuk mencapai tempat kerja saya. Waduh mana ongkosnya suka mahal dari biasanya, ditambah lagi rutinitas meniki angkot dengan jurusan yang sama membuat rasa bosan kadang menyerang. Ini kisah dimulai dari keinginan membunuh rasa bosan yang sangat menggangu. 08/09/2009 21:29:21 Seorang adik kecil berusia kurang lebih 5-7 tahun bersama dengan seorang pemuda yang wajahnya mirip dengan salah seorang teman-ku waktu SMU, kutemui di dalam sibiru-satu sore ini. Hal pertama yang tersirat dalam pikiranku adalah, wah..jangan-jangan nih orang pedofil. Seram membayangkan kalau hal itu adalah benar-benar terjadi. Kemeja kotak-kotak merah dengan rok lipit serta sepatu tertutup adalah seragam sang ad...

Demam Facebook

Facebook, saya di-invite oleh rekan saya Joly untuk ikutan group di facebook, orang-orang lebih senang bilang fesbuk, atau FB buat yang males nyatet panjang-panjang. Setelah melihat kontent-nya asyik juga saya pikir, perlu ini dicoba. setelah hi-5, flixter dan friendster yang sudah tidak saya tahu lagi nasib akun saya entah kemana. Fitur-fitur fesbuk memang cukup lengkap, mulai dari sarana jejaring friends, chatbox, message board, forum diskusi, event, musik, linkage, tak ketinggalan photos dan seabreg games menarik. Mendapat kenalan baru dari fesbuk memang tidak sulit. Dan salah satu keuntungan yang sudah saya rasakan adalah bisa bertemu dengan teman-teman lama yang sudah tidak tahu dimana rimbanya selama ini. Wah segitu efektifkah fesbuk ini mengghubungkan orang?? Saya juga lumayan aktif di fiendster namun boleh dihitung juga berapa teman lama yang kembali saya temukan. Saya juga pernaj mendengar adanya 'twitter'. Nah kalau jejaring yang satu ini sepertinya tidak be...